Akhir Pesta di Kalijodo

Cerita gemerlap dan meriahnya Kalijodo yang selama puluhan tahun dikenal sebagai kawasan “remang-remang” kini berakhir. Hari ini, Senin 29 Februari 2016, semua bangunan di bantaran Kali Banjir Kanal Barat itu diratakan. Kawasan itu akan kembali sebagai ruang terbuka hijau.

foo
Sekitar 300 bangunan liar di Kalijodo (Jakarta Utara) akan digusur sehubungan dengan penertiban tanggul-tanggul sungai di Jakarta. Walikota Jakarta Utara Koestamto ketika dihubungi Selasa kemarin belum memastikan kapan penggusuran itu dilaksanakan. Kepada para warga yg bersangkutan sudah diperingatkan agar segera melapor sendiri bangunan mereka.
KOMPAS/KARTONO RYADI

Senin, 29 Februari 2016, pagi ini, berakhir sudah kisah panjang Kalijodo. Kawasan yang beberapa puluh tahun terakhir selalu identik sebagai salah satu pusat prostitusi di Jakarta itu akan dibongkar. Kawasan lampu merah itu akan dikembalikan fungsinya sebagai ruang terbuka hijau…

”Saya sudah bilang Kalijodo harus dibersihkan. Tidak ada toleransi. (Tempat itu) lebih banyak mudarat daripada manfaatnya,”

Penertiban salah satu kawasan “hitam” di Jakarta itu bisa dikatakan terjadi sangat tiba-tiba. Tiga pekan lalu, tak seorang pun yang mengira kawasan transaksi seks “murah meriah” di perbatasan Jakarta Barat dan Jakarta Utara ini akan segera tamat riwayatnya.

Semua berawal dari tabrakan yang melibatkan Toyota Fortuner nomor polisi B 201 RFD pada Senin (8/2) dini hari. Mobil warna hitam yang dikemudikan Ricky Agung Prasetya (27) itu menabrak sepeda motor Yamaha Mio B 4068 BFI yang dikendarai pasangan suami-istri Zulkahfi Rahman (28) dan Nuraini (24) di Jalan Daan Mogot Kilometer 15, Jakarta Barat.

Zulkahfi dan Nuraini tewas seketika di lokasi tabrakan. Setelah menabrak sepeda motor, mobil oleng dan menabrak tiang listrik. Dua di antara sembilan penumpang di dalam mobil Fortuner hitam itu juga tewas.

Belakangan diketahui, 9 orang yang menumpang Fortuner maut itu baru saja bersenang-senang di Kalijodo. Berdasarkan pengakuan pengemudi mobil itu kepada polisi, ia diketahui meminum beberapa gelas bir putih sebelum kejadian. Saat berada di tempat karaoke di kawasan Kalijodo, Jakarta Barat, ia dan enam rekannya memesan 10 botol bir putih. Minuman itu lalu diminum beramai-ramai.

Menanggapi peristiwa itu, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama memerintahkan lurah dan camat untuk segera menertibkan tempat hiburan di kawasan Kalijodo. Menurut Basuki, kawasan Kalijodo tidak memiliki manfaat dan malah sering disalahgunakan untuk tempat prostitusi dan minum minuman keras. ”Saya sudah bilang Kalijodo harus dibersihkan. Tidak ada toleransi. (Tempat itu) lebih banyak mudarat daripada manfaatnya,” kata Basuki, 9 Februari lalu.

Maka isu pun bergulir, dari kasus kelalaian pengemudi yang mengemudi di bawah pengaruh alkohol sehingga menyebabkan orang lain kehilangan nyawa, menjadi soal penertiban kawasan lampu merah yang sudah puluhan tahun bercokol tanpa seorang pun terkesan berani mengganggunya.

Dalam waktu tak lebih dari dua pekan, para penghuni Kalijodo mulai pergi satu per satu. Penduduk asli mulai didaftar untuk mendapatkan tempat tinggal pengganti di rumah susun. Sementara para pendatang, baik para pekerja seks komersial, pemilik tempat hiburan, dan segala pekerja di rantai bisnis hitam di kawasan itu, meninggalkan kawasan ini, entah untuk pulang kampung atau mencari tempat operasi baru.

Mulai hari ini, segala riwayat yang terjadi di sana akan menjadi sekadar kisah.

________

Deretan bangunan kafe dan tempat hiburan yang berada di wilayah Kalijodo, Penjaringan, Jakarta Utara, Senin (15/2/2016). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta merelokasi kawasan tersebut dan mengembalikan ke fungsi semula sebagai ruang terbuka hijau.
KOMPAS/RADITYA HELABUMI

Pesta, bir, dan seks

Degup kehidupan malam di Kalijodo masih begitu semarak Sabtu hingga Minggu (14/2) lalu. Perempuan berpakaian menggoda, dan laki-laki yang menjadi tamu bercengkerama di sebuah tempat hiburan. Disjoki memainkan musik. Lampu warna-warni ”menari” di antara pengunjung. Pengasong masuk ke lantai dansa menawarkan kerupuk kulit. Pengasong lainnya datang menawarkan bermacam camilan goreng.

Waktu menunjukkan pukul 02.00, tetapi semua tempat hiburan malam di kawasan Kalijodo masih ramai oleh suara musik dan pengunjung. Papan- papan iklan dua merek bir membuat Jalan Pendahuluan II sepanjang 500 meter di tepian Kanal Barat itu terang semarak.

”Di Jakarta, kawasan Kalijodo menjadi pasar bir terbesar, diikuti kawasan Mangga Besar. Maklum, minuman beralkohol di sini cuma bir. Tak ada jenis minuman beralkohol lain,” kata seorang pemasok bir, Sugeng (43), malam itu.

Tak kurang dari 4.000 peti yang masing-masing berisi 24 botol bir habis terjual setiap bulan. Itu artinya, jika harga sebotol bir seperti malam itu dijual Rp 60.000, omzet bisnis ini per bulan Rp 5,76 miliar.

Tahun 2010-2011, ia pernah memasok bir dari satu merek di Kalijodo. Untuk itu, perusahaan bir tersebut harus membayar ”uang kontrak” setahun senilai Rp 800 juta kepada ”otoritas” Kalijodo. Tahun berikutnya, uang kontrak naik menjadi Rp 950 juta.

Namun, ketika uang kontrak naik lagi Rp 1,3 miliar, perusahaan bir yang Sugeng pasok tak sanggup lagi membayar. ”Kalau perusahaan bir yang papan-papan iklannya kini ramai menghiasi kawasan Kalijodo ini tahun depan tak sanggup membayar uang kontrak, sudah ada sejumlah perusahaan bir lain yang siap menggusur perusahaan bir yang sekarang mendapat hak monopoli,” ujar Sugeng. Ia menambahkan, harga bir yang dijual umumnya dua kali lipat dari harga pabrik.

Sepengamatan Sugeng, tiga tahun terakhir, tempat hiburan malam di Kalijodo tumbuh pesat. Beberapa pemilik diskotek, kafe, ruang karaoke, dan rumah bordil pun mengakui hal itu.

Salah seorang pemilik ruang karaoke dan diskotek di sana menjelaskan, hanya dalam lima bulan investasi senilai Rp 1,2 miliar untuk membangun gedung tiga lantai berikut belasan kamar ber-AC bisa kembali.

”Kalau dibangun di atas tanah milik warga, saya bagi hasil dengan mereka. Titik impas investasi baru kembali dalam setahun,” ujarnya.

Kompas/Raditya Helabumi Warga berjalan di salah satu lorong tempat hiburan malam kawasan Kalijodo, Penjaringan, Jakarta Utara, Rabu (24/2/2016). Kondisi kawasan Kalijodo tampak semakin sepi seiring dengan habisnya tenggat waktu surat peringatan pertama pembongkaran bangunan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Kompas/Raditya Helabumi Warga berjalan di salah satu lorong tempat hiburan malam kawasan Kalijodo, Penjaringan, Jakarta Utara, Rabu (24/2/2016). Kondisi kawasan Kalijodo tampak semakin sepi seiring dengan habisnya tenggat waktu surat peringatan pertama pembongkaran bangunan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Kompas/Raditya Helabumi Salah satu bilik yang berada di tempat hiburan Kalijodo, Penjaringan, Jakarta Utara, Senin (15/2/2016).
Kompas/Raditya Helabumi Salah satu bilik yang berada di tempat hiburan Kalijodo, Penjaringan, Jakarta Utara, Senin (15/2/2016).
Kompas/Raditya Helabumi Salah satu sudut di kawasan Kalijodo, Penjaringan, Jakarta Utara, Rabu (17/2/2016). Pemerintah melalui Kementerian Sosial menawarkan solusi pemberdayaan dengan pelatihan ketrampilan bagi para pekerja seks komersial setelah relokasi kawasan tersebut.
Kompas/Raditya Helabumi Salah satu sudut di kawasan Kalijodo, Penjaringan, Jakarta Utara, Rabu (17/2/2016). Pemerintah melalui Kementerian Sosial menawarkan solusi pemberdayaan dengan pelatihan ketrampilan bagi para pekerja seks komersial setelah relokasi kawasan tersebut.
Kompas/Raditya Helabumi Salah satu sudut di kawasan Kalijodo, Penjaringan, Jakarta Utara, Rabu (17/2/2016).
Kompas/Raditya Helabumi Salah satu sudut di kawasan Kalijodo, Penjaringan, Jakarta Utara, Rabu (17/2/2016).
Kompas/Raditya Helabumi Usaha warung makan yang dikelola warga di Kawasan Kalijodo, Penjaringan, Jakarta Utara, Rabu (17/2/2016). Selain tempat hiburan malam dan prostitusi, banyak warga yang menggantungkan hidupnya dengan membuka usaha warung dan toko kecil di kawasan Kalijodo.
Kompas/Raditya Helabumi Usaha warung makan yang dikelola warga di Kawasan Kalijodo, Penjaringan, Jakarta Utara, Rabu (17/2/2016). Selain tempat hiburan malam dan prostitusi, banyak warga yang menggantungkan hidupnya dengan membuka usaha warung dan toko kecil di kawasan Kalijodo.

Kalijodo terhampar di perbatasan Jakarta Utara di Kecamatan Penjaringan, dan Jakarta Barat di Kecamatan Tambora. Data Pemerintah Kota Jakarta Utara menyebutkan, di atas lahan seluas 1,4 hektar di bagian Jakarta Utara terdapat 58 kafe yang terletak di lima RT. Data dari Kelurahan Penjaringan, ada 1.356 keluarga atau 3.032 jiwa di kelima RT ini dengan jumlah PSK sekitar 450 orang.

Setiap malam, seorang PSK melayani rata-rata lima pelanggan. Namun, saat ramai, seorang PSK bisa melayani 10-15 pelanggan. Tarif mereka rata-rata Rp 200.000.

Sebagian di antara mereka, kata Koordinator Layanan HIV/AIDS Puskesmas Penjaringan, dokter Intan Novita, mengidap HIV dan tetap bekerja sebagai PSK di sana.

Penulis novel Ca-bau-kan yang berlatar Kalijodo, Yapi Tambayong alias Remy Sylado, menjelaskan, Kalijodo awalnya tempat rekreasi para kio seng (perempuan peranakan Tionghoa) mencari jodoh dengan bernyanyi Mandarin di atas biduk yang dihiasi pelita lampion.

"Suasananya masih jauh dari hiruk pikuk Kalijodo kini,” ujar Remy. ”Para kio seng ini memakai pakaian terusan cheongsam. Rambutnya digelung cepol ditutup batok kepala dengan tusuk konde. Ini kesaksian saya di tahun 1955,” ucap Reginal alias Ceceng (67), yang ditemui di rumahnya tak jauh dari Kalijodo.

Rumah-rumah bordil, kata anak tunggal seorang bandar opium di era pemerintahan Hindia Belanda ini, baru dikenal di Jembatan Dua yang letaknya tak jauh dari Kalijodo. Praktik prostitusi di Jembatan Dua itu, lanjutnya, meluas ke Kalijodo seiring datangnya para pendatang dari luar Pulau Jawa.

Banyak kalangan memiliki usaha dan menggantungkan hidupnya dari Kalijodo, mulai dari pramusaji hingga petugas keamanan. Masalah sosial pun kait-mengait dan butuh perhatian serius untuk menguraikannya.

________

Kawasan di Kalijodo, Jakarta Utara, 4 Desember 1979.
KOMPAS/KARTONO RYADI

Dari Era Tjong Wie sampai Azis

Tjong Wie Pien atau Tjong Wie. Pada era 1955, ia paling dikenal sebagai pemilik rumah bordil paling kaya di kawasan Kalijodo, sisi Jakarta Barat.

”Kalau ada orang bilang, ’Yuk ke rumah Tjong Wie’, atau ’Yuk ke atas’, artinya orang tersebut mengajak orang lain ke suhian (dari bahasa Hokkian, artinya rumah bersenang senang atau rumah bordil) milik Tjong Wie,” jelas Reginal alias Ceceng (67) saat ditemui di rumahnya di dekat Kalijodo, Rabu (17/2) sore.

Tentang istilah ”ke atas”, Ceceng menjelaskan, dulu pangkalan pekerja seks komersial (PSK) ada di sekitar Jembatan Dua, di Jalan Tubagus Angke, yang sekarang jadi pasar. ”Kala itu, permukaan tanah di Jembatan Dua lebih rendah daripada permukaan tanah di Kalijodo. Kalijodo masih berupa bukit kecil,” ujarnya.

Hidung belang memilih para PSK di Jembatan Dua, lalu membawa PSK pilihannya ”ke atas”, menyewa kamar di rumah bordil. PSK-nya kio seng (peranakan Tionghoa-ayah Tionghoa, ibu pribumi) semua. Sebagian mereka berasal dari Tangerang dan sebagian lain di sekitar kawasan Tubagus Angke. Mereka biasanya duduk di empat bangku panjang mengelilingi meja kayu di tepi jalan.

Di atas meja disajikan botol-botol minuman keras seperti bir cap Nori dan Ciu (arak) Wi Seng, kacang goreng, emping, dan kuaci. ”Kalo dah cocok dibawa dah tu cabo ( perempuan) ke atas, ke rumah Tjong Wie,” jelas Ceceng.

Di antara beberapa rumah bordil di Kalijodo, rumah Tjong Wie dianggap paling mentereng. ”Cuma dia yang penerangan rumahnya sudah memakai diesel. Suhian suhian lain masih memakai lampu petromaks (lampu pompa berbahan bakar minyak tanah). Sebagian kecil suhian pakai lampu tempel,” tutur Ceceng.

Semua rumah bordil kala itu terdiri atas tembok di bagian bawah dan papan di bagian atas. Letak suhian Tjong Wie di tepi Kalijodo. Rumahnya terdiri atas tiga lantai. Bagian paling bawah untuk duduk-duduk bercengkerama. Bagian ini berada di bibir Kalijodo. Di keremangan tempat itu, pasangan-pasangan yang dibuai asmara bisa menikmati hilir mudik biduk (perahu).

Di atas biduk-biduk itu para kio seng yang kebanyakan sudah berusia rata-rata 40 tahun menyanyi lagu mandarin, mencari jodoh. Lantai dua digunakan sebagai rumah makan, sedangkan lantai tiga yang tingginya sama dengan badan jalan terdiri atas kamar-kamar.

”Umumnya para tamu yang sudah mengambil PSK dari Jembatan Dua begitu tiba di rumah Tjong Wie langsung masuk kamar. Dari sana mereka duduk-duduk di pelataran lantai satu di bibir sungai, lalu naik ke lantai dua untuk makan,” papar Ceceng.

Sayang, ketika itu usia Ceceng baru 6 tahun, sedangkan Tjong Wie kala itu berusia 45 tahun. ”Jadi, saya enggak tahu tentang skandal asmara dan rumah tangga Tjong Wie,” ujar Ceceng. Yang jelas Tjong Wie punya banyak simpanan. Salah satu simpanannya bernama Nagin. Perempuan Cina Benteng, Tangerang, ini menjadi kembang Kalijodo.

Ceceng mengaku biasa ke Kalijodo bersama ayahnya hanya untuk mencari udara segar sambil menikmati nyanyian para kio seng. Ayah Ceceng, Kwee Tjin Siu, adalah bandar besar opium di Pejagalan, Jakarta Barat. Tak heran jika setiap ayah dan anak ini datang dengan mobil jip tanpa kap, disambut ramai para centeng dan mandor.

Seingat Ceceng, Tjong Wie merupakan orang pertama yang mendirikan rumah bordil di Kalijodo. ”Dari sejak tujuh biduk para kio seng masih ada di Kalijodo sampai enggak ada lagi,” ujar Ceceng.

Kompas/KARTONO RYADIKawasan di Kalijodo, Jakarta Utara, 4 Desember 1979.
Kompas/KARTONO RYADIKawasan di Kalijodo, Jakarta Utara, 4 Desember 1979.
Kompas/RADITYA HELABUMIDeretan bangunan kafe dan tempat hiburan yang berada di wilayah Kalijodo, Penjaringan, Jakarta Utara, Senin (15/2/2016).
Kompas/RADITYA HELABUMIDeretan bangunan kafe dan tempat hiburan yang berada di wilayah Kalijodo, Penjaringan, Jakarta Utara, Senin (15/2/2016).

Menurut warga Kalijodo, Daeng Abu Bakar (67), setelah Tjong Wie dan orang-orang Tionghoa pemilik rumah bordil lainnya mundur, orang-orang Banten, Mandar, dan Bugis yang tinggal di sekitar Luar Batang, Muara Angke, Jakarta Utara, mengambil alih.

Di era Tjong Wie, setiap pemilik rumah bordil di Kalijodo berilmu bela diri tinggi. Tradisi centeng, mandor, dan kekerasan baru muncul awal tahun 1980-an, yaitu ketika muncul nama Asman asal Mandar, Sulawesi Selatan, menguasai bisnis prostitusi dan judi di Kalijodo.

Abu mengatakan, karena dikenal gesit, tak banyak bicara, dan kejam, ”pasukan” Asman yang dipimpin Arkan Malik ini disebut ”Anak Macan”.

Ketika itu, lanjut Abu, Daeng Abdul Azis asal Makassar belum memiliki ”pasukan”. Roda usaha rumah judi dan rumah bordil Azis cuma digerakkan para pria penganggur saja sampai akhirnya terjadi pertikaian di antara kelompok Azis dan kelompok Asman.

Setelah Asman mundur dari Kalijodo, lanjut Abu, Azis mengendalikan hampir seluruh bisnis bir di Kalijodo sisi Penjaringan, Jakarta Utara.

Namun, Era Azis pun berakhir. Seiring Ia ditangkap oleh aparat Polres Jakarta Utara karena diduga mencuri listrik. Ia juga ditetapkan sebagai tersangka kasus prostitusi.

________

Pembongkaran bangunan kafe dan tempat hiburan yang berada di wilayah Kalijodo, Penjaringan, Jakarta Utara, Senin (15/2/2016). KOMPAS/RADITYA HELABUMI

Dan Pesta Itu Pun Usai...

Satu per satu, para penghuni Kalijodo pergi. Sabtu (20/2) siang itu, Nanik (43) tampil ceria dikerumuni beberapa wartawan. Perempuan asal Yogyakarta itu lalu bersemangat menjelaskan bahwa ia dan keluarganya sudah hidup di kawasan lampu merah Kalijodo, Jakarta Utara, sejak 15 tahun lalu.

Ia bertemu suaminya pun di situ. Menikah, memiliki empat anak, dan mengelola rumah bordil berisi 25 kamar di Kalijodo.

Tiga tahun pertama hidup di situ, ia sudah mulai bisa menabung dan, kini, ia dan keluarganya telah memiliki rumah di atas tanah 1.000 meter persegi di Kaliurang, Yogyakarta, serta rumah dan sawah seluas 4 hektar di Purworejo, Jawa Tengah.

”Jujur saja, semua hasil dari sini. Biaya empat anak saya sekolah juga dari sini. Sekarang dua anak saya sudah lulus perguruan tinggi negeri, cum laude. Waktu saya datang ke sini, ndak punya apa-apa,” ucap Nanik.

Setelah rumah bordilnya di Kalijodo sekarang ditutup, ia dan anak-anaknya akan melanjutkan rencana membangun penginapan rumahan (homestay) dan kafe di Yogyakarta. Pariwisata memang sedang marak di Kota Pelajar itu.

Ia kini justru bersyukur rumah bordilnya ditutup. ”Kalau ndak ditutup, ya, kapan saya mau serius membangun homestay sama kafe di Kaliurang?” ujar Nanik. Ia tersenyum.

Di depan Wisma Adem, tempat hiburan malam lain di Kalijodo, juga terlihat kesibukan sejumlah pria mengangkut kasur-kasur busa ke dalam truk. Seorang pria asal Jawa Timur yang mengaku sebagai pemilik wisma tersebut menolak menjawab ke mana barang-barang itu dibawa.

Seperti halnya ”anak-anak” Nanik, ”anak-anak” Wisma Adem juga sudah pulang satu demi satu sejak hampir sepekan ini, sejak kabar penggusuran Kalijodo beredar.

Kompas/Raditya HelabumiWarga yang tinggal di kawasan Kalijodo, Penjaringan, Jakarta Utara, menunjukan surat peringatan pertama yang diberikan petugas Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, untuk mengosongkan rumah, Kamis (18/2/2016). Surat peringatan pertama tersebut berlaku selama 7x24 jam.
Kompas/Raditya HelabumiWarga yang tinggal di kawasan Kalijodo, Penjaringan, Jakarta Utara, menunjukan surat peringatan pertama yang diberikan petugas Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, untuk mengosongkan rumah, Kamis (18/2/2016). Surat peringatan pertama tersebut berlaku selama 7x24 jam.
Kompas/Raditya HelabumiSalah seorang warga meninggalkan tempat tinggalnya di kawasaan Kalijodo, Penjaringan, Jakarta Utara, Kamis (25/2/2016). Sebagian warga Kalijodo telah pindah ke rumah susun yang disediakan pemerintah.
Kompas/Raditya HelabumiSalah seorang warga meninggalkan tempat tinggalnya di kawasaan Kalijodo, Penjaringan, Jakarta Utara, Kamis (25/2/2016). Sebagian warga Kalijodo telah pindah ke rumah susun yang disediakan pemerintah.
Kompas/Raditya HelabumiSebagian pekerja di tempat hiburan kawasan Kalijodo meninggalkan kawasan Kalijodo setelah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui petugas Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, memberikan surat peringatan pertama kepada warga untuk membongkar sendiri atau mengosongkan rumah, Kamis (18/2/2016).
Kompas/Raditya HelabumiSebagian pekerja di tempat hiburan kawasan Kalijodo meninggalkan kawasan Kalijodo setelah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui petugas Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, memberikan surat peringatan pertama kepada warga untuk membongkar sendiri atau mengosongkan rumah, Kamis (18/2/2016).
Kompas/Mukhamad KurniawanWarga Kalijodo, Pejagalan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, berunjuk rasa di depan kantor DPRD DKI Jakarta di Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Jumat (19/2/2016). Mereka meminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berdialog dengan warga dan menunda rencana pengosongan lahan untuk ruang terbuka hijau.
Kompas/Mukhamad KurniawanWarga Kalijodo, Pejagalan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, berunjuk rasa di depan kantor DPRD DKI Jakarta di Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Jumat (19/2/2016). Mereka meminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berdialog dengan warga dan menunda rencana pengosongan lahan untuk ruang terbuka hijau.
Kompas/Raditya HelabumiWarga Kalijodo, Penjaringan, Jakarta Utara, menunggu keberangkatan bus yang akan membawa mereka ke Rumah Susun Marunda, Kamis (25/2/2016).
Kompas/Raditya HelabumiWarga Kalijodo, Penjaringan, Jakarta Utara, menunggu keberangkatan bus yang akan membawa mereka ke Rumah Susun Marunda, Kamis (25/2/2016).
Kompas/Raditya HelabumiAnggota Satpol PP dikerahkan untuk mengamankan pembongkaran bangunan di kawasan Kalijodo, Jakarta Utara.
Kompas/Raditya HelabumiAnggota Satpol PP dikerahkan untuk mengamankan pembongkaran bangunan di kawasan Kalijodo, Jakarta Utara.

”Pesta terakhir di Kalijodo itu, ya, Sabtu malam Minggu pas Hari Valentine lalu. Setelah itu, hari Seninnya, ’anak-anak’ saya dan ’anak-anak’ rumah lain sudah mulai pulang satu per satu,” kata Suryana (52), pemilik rumah karaoke dan rumah bordil terluas di Kalijodo.

Sabtu sore itu, keramaian memang masih terlihat di Kalijodo. Namun, berbeda dari malam Minggu sebelumnya, keramaian itu bukan persiapan pesta. Hampir seluruh ruas Jalan Kepanduan II di Kalijodo diwarnai hiruk pikuk kegiatan berkemas. Belasan truk dan mobil bak membawa barang-barang keluar dari Kalijodo.

Sementara personel gabungan aparat keamanan yang terbagi dalam kelompok-kelompok kecil masih tampak menyisir Kalijodo. Mereka adalah sebagian dari sekitar 3.000 personel gabungan TNI-Polri-Satpol PP yang sejak Sabtu pagi menggelar Operasi Pekat (penyakit masyarakat). Dalam operasi tersebut, ratusan senjata tajam, mulai dari celurit sampai anak panah, diamankan.

Kompas/Raditya HelabumiProses pembongkaran bangunan di kawasan Kalijodo, Jakarta Utara.
Kompas/Raditya HelabumiProses pembongkaran bangunan di kawasan Kalijodo, Jakarta Utara.

Pesta pun telah usai.

Alat-alat berat mulai merobohkan bangunan liar di Kalijodo. Tempat itu segera diubah menjadi fungsi semula sebagai ruang terbuka hijau.

Tak ada lagi kehidupan malam di Kalijodo. Penghuninya menuju rumah baru. Hidup harus berlanjut...

________

Produser Dahono Fitrianto
Nasru Alam Aziz
Prasetyo Eko Prihananto

Penulis Windoro Adi
Saiful Rijal Yunus
Dian Dewi P
Iqbal Basyari

Fotografer Raditya Helabumi
Mukhamad Kurniawan
Kartono Ryadi

Videografer Wawan H Prabowo

Designer & Develop Gracia Veronica

________